Sabtu, 11 Desember 2010

Tips Mempartisi Flas Disk

Wew sekarang speed nya rada naek meskipun dikit hohohoh g tau speedy nya yg jelek ato jaringa LAN nya jelek, yg pingin FD nya jadi 2 partisi biar kekren dikit.. ini dia cara2 nya
Ingin mempunyai 2 flash disk tapi ga kesampean ??? Satu – satunya solusi adalah dengan cara Partisi, tapi flashdisk dipartisi, memang bisa ? Setau kita selama ini kan hanya Hardisk yang dapat dipartisi, ya…Sekarang saatnya merubah tanggapan itu….Beginilah caranya..

Pertama-tama siapkan terlebih dahulu alatnya…
1. Partition Magic
2. HP Key Boot Utility
3. Data Pentingnya

Pertama download terlebh dahulu semua data – datanya
Extract FD partition.zip terlebih dahulu….Setelah itu masuk ke dalam registry caranya, seperti biasa : Start >> Run ketik regedit kalau sudah terbuka jendela registrynya masuk ke dalam key berikut :
HKEY_LOCAL_MACHINE\system\controlset001\Enum\UsbSt or
Ya, pada key tersebut akan banyak nama – nama product flashdisk yang pernah masuk ke komputer anda, untuk mengetahuinya sama atau tidak dengan flashdisk anda ada baiknya kita melakukan ricek, caranya :

Klik kanan icon usb di system tray alias pojok kiri bawah pilih Sadely remove Hardware, Kemudian pilih USb yang mau anda belah dan sekarang Klik 2x pada icon tersebut, sesuaikan pada Keyname di registry tadi (HKEY_LOCAL_MACHINE\system\controlset001\Enum\UsbS tor)

Copy KeyName pada registry tersebut (HKEY_LOCAL_MACHINE\system\controlset001\Enum\UsbS tor) misal: Disk&Ven_Kingston&Prod_DataTraveler_2.0&Rev_PMAP

Ya, apabila sudah benar seperti diatas, sekarang buka file cfadisk.inf kemudian tekan Ctrl + H, dan ketikkan Dan Replace Namenya adalah keyname pada registry tadi, yupz sekarang tekan Replace All. Setelah itu masuk ke my computer >> [klik kanan pada FD yang mau dipartisi] pilih; Properties >> Pilih Hardware dan pilih FD yang mau anda belah =p dan klik tombol Properties || Masuk ke tab Driver || Setelah itu pilih Update Driver ||, Kalo sudah, ada di Hardware Update Wizrd, pilih Install From a List [ yang bawah ] Next || Pilih Don’t Search I will …[yang bawah] || Next lagi || Klik Have Disk || Browse dimana cfadisk.inf diletakkan,sekarang pilih next || Next, sampai Finish…
Jika benar maka Flashdisk anda akan berganti status menjadi Hardisk, Sekarang Install semua Software yang anda Download tadi, Sekarang gunakan HP Key Boot Utility untuk memperbaiki bad sectornya untuk penggunaan key boot utility sampai Proses pembelahan flashdisk anda dapat melihat tutorial saya di sini ya, ini memang tutorial saya untuk di dua tempat untuk itu saya izin terlebih dahulu =p yah….
Demikianlah tutorialnya, semgoa anda jadi lebih bisa berhemat =p untuk tidak membeli 2 FlashDisk

NB : Hati – hati terhadap DeepFreeze Ingat status FD anda sekarang adalah Hardisk, apabila anda ingin mengembalikannya menjadi status FD anda cukup pdate Driver lagi, tetapi Pilih yang Install Software Application [Recomended]

Ulead Video Studio 11 Plus Full Version

Ulead Video Studio 11 Plus Full Version

Ulead Video Studio 11 Plus Full Version merupakan software editing video yang cukup terkenal karena kemampuan dan kemudahannya dalam mengoperasikan.

Software dapat melakukan editing yang menarik mulai dari memberikan efek, tema, dan bahkan dapat membuat slideshow dari photo.

Khusus softholic mania yang menyukai kegiatan editing tidak ada salahnya belajar menggunakan software ini karena akan sangat membantu dalam memberikan hasil yang baik.

download (mediafire) size (131,21 MB)
http://www.mediafire.com/?cztuvvzukt9awty

Password : dnh

Minggu, 14 November 2010

Net Control2

Mengendalikan Komputer Lain

Hemd.., terlihat menarik bukan?? Yah itulah yang ada didunia komputer, kita bisa mengendalikan apapun yang kita mau (Asalkan kita bisa.., tentunya..)
Disini, saya menggunakan Program NetControl, jika anda belum punya, silakan DOWNLOAD DISINI., Dengan software ini, anda bisa mengendalikan setiap gerakan mouse, proses maupun tampilan layar si korban, disini kita mempunyai hak akses hampir 100% pada komputer korban, sungguh menarik bukan.
Disini software tersebut akan diinstallkan pada 2 komputer, yaitu komputer pengendali dan komputer yang akan dikendalikan (Komputer korban). 
Pertama, akan saya ajari menginstall softwarenya, ikuti gambar berikut :
 Klik OK
Klik Next
 Pilih "I Accept the agreement" lalu klik "Next".
*PENTING* Ini adalah langkah untuk diinstallkan pada komputer pengendali jadi anda harus memilih "Administrator Component". Untuk penginstalan pada .komputer yang akan dikendalikan anda harus memilih "User Component" yang akan dijelaskan pada langkah selanjutnya.
*PENTING*  Nah ini adalah langkah untuk penginstalan pada komputer yang akan dikendalikan atau sebut saja "Komputer Korban"  perbedaan penginstalannya hanya disini saja yang lainnya sama, jadi jangan bingung ya sobat!! nah, langsung ke step selanjutnya..
Pilih "Next"
Pilih "Next"
Pilih "Next"
Pilih "Install"
Pilih "Next"
Pilih "Finish"  (Anda boleh merestart komputer, ataupun tidak)
Setelah keda komputer sudah diinstall software netcontrol, maka akan saya ajari mengendalikannya.
Duduklah didepan komputer pengendali yang sudah diinstallkan "Administrator Component". buka shortcut netcontrol yang ada di desktop.maka akan tampil gambar berikut:
Iya pa bukan?? Klo dy minta serial number buka aja didownload-an tadi saya juga menyertakan file berEkstensi txt yang isinya beberapa serial number.
Klik ikon yang ditunjukkan oleh mouse tersebut.
akan ada proses. anda tinggal menunggunya saja.
Nah itu dy desktop si korban, ternyata dy lagi buka facebook! bahahahha!
Langsung aja, klik 2 kali (Double klik) pada gambar tersebut maka akan muncul windows baru yang isinya adalah desktop si korban.
Jreng.....! nah sekarang anda punya hak akses sepenuhnya pada komputer korban. anda dapat menggerakkan mouse nya kesana kemari dengan menggerakkan mouse melewati window tersebut. dan untuk tool2 yang lainnya sudah disediakan diatas window tersebut. Dan saya yakin, untuk menggunakkannya saya tidak perlu mengajari anda, karena untuk hal hal tersebut anda sudah lebih pintar daripada saya.
Dan jika anda berbakat menjadi hacker, belajarlah menggunakan software bernama prorat. Karena software itu hampir sempurna, karena itu adalah software backdoor. jadi sangat kecil kemungkinan anda akan ketauan oleh si korban..!

Sabtu, 13 November 2010

Macam - macam bahasa pemrograman


Bagi anda yang bekerja dalam bidang web design pasti sudah tidak asing lagi dengan apa yang nama bahasa pemrograman.Bahasa pemrograman yang umum dikenal adalah php dan html.Tapi sebenarnya masih banyak bahasa pemrograman yang lain.

Berikut ini ada beberapa macam bahasa pemrograman yang perlu anda ketahui

1. Bahasa Pemrograman HTML
HyperText Markup Language (HTML) adalah sebuah bahasa markup yang digunakan untuk membuat sebuah halaman web dan menampilkan berbagai informasi di dalam sebuah browser Internet.
HTML saat ini merupakan standar Internet yang didefinisikan dan dikendalikan penggunaannya oleh World Wide Web Consortium (W3C).
HTML berupa kode-kode tag yang menginstruksikan browser untuk menghasilkan tampilan sesuai dengan yang diinginkan.
Sebuah file yang merupakan file HTML dapat dibuka dengan menggunakan browser web seperti Mozilla Firefox atau Microsoft Internet Explorer.

2. Bahasa Pemrograman PHP
PHP adalah bahasa pemrograman script yang paling banyak dipakai saat ini.
PHP pertama kali dibuat oleh Rasmus Lerdorf pada tahun 1995. Pada waktu itu PHP masih bernama FI (Form Interpreted), yang wujudnya berupa sekumpulan script yang digunakan untuk mengolah data form dari web.
PHP banyak dipakai untuk membuat situs web yang dinamis, walaupun tidak tertutup kemungkinan digunakan untuk pemakaian lain.
PHP biasanya berjalan pada sistem operasi linux (PHP juga bisa dijalankan dengan hosting windows).

3. Bahasa Pemrograman ASP
ASP adalah singkatan dari Active Server Pages yang merupakan salah satu bahasa pemograman web untuk menciptakan halaman web yang dinamis.
ASP merupakan salah satu produk teknologi yang disediakan oleh Microsoft.
ASP bekerja pada web server dan merupakan server side scripting.

4. Bahasa Pemrograman XML
Extensible Markup Language (XML) adalah bahasa markup serbaguna yang direkomendasikan W3C untuk mendeskripsikan berbagai macam data.
XML menggunakan markup tags seperti halnya HTML namun penggunaannya tidak terbatas pada tampilan halaman web saja.
XML merupakan suatu metode dalam membuat penanda/markup pada sebuah dokumen.

5. Bahasa Pemrograman WML
WML adalah kepanjangan dari Wireless Markup Language, yaitu bahasa pemrograman yang digunakan dalam aplikasi berbasis XML (eXtensible Markup Langauge).
WML ini adalah bahasa pemrograman yang digunakan dalam aplikasi wireless.
WML merupakan analogi dari HTML yang berjalan pada protocol nirkabel.

6. Bahasa Pemrograman PERL
Perl adalah bahasa pemrograman untuk mesin dengan sistem operasi Unix (SunOS, Linux, BSD, HP-UX), juga tersedia untuk sistem operasi seperti DOS, Windows, PowerPC, BeOS, VMS, EBCDIC, dan PocketPC.
PERL merupakan bahasa pemograman yang mirip bahasa pemograman C.

7. Bahasa Pemrograman CFM
Cfm dibuat menggunakan tag ColdFusion dengan software Adobe ColdFusion / BlueDragon / Coldfusion Studio.
Syntax coldfusion berbasis html.

8. Bahasa Pemrograman Javascript
Javascript adalah bahasa scripting yang handal yang berjalan pada sisi client.
JavaScript merupakan sebuah bahasa scripting yang dikembangkan oleh Netscape.
Untuk menjalankan script yang ditulis dengan JavaScript kita membutuhkan JavaScript-enabled browser yaitu browser yang mampu menjalankan JavaScript.

9. Bahasa Pemrograman CSS
Cascading Style Sheets (CSS) adalah suatu bahasa stylesheet yang digunakan untuk mengatur tampilan suatu dokumen yang ditulis dalam bahasa markup.
Penggunaan yang paling umum dari CSS adalah untuk memformat halaman web yang ditulis dengan HTML dan XHTML.
Walaupun demikian, bahasanya sendiri dapat dipergunakan untuk semua jenis dokumen XML termasuk SVG dan XUL.
Spesifikasi CSS diatur oleh World Wide Web Consortium (W3C).

Jumat, 12 November 2010

Windows Server AppFabric Caching

Introduction
For those of you who haven’t heard about AppFabric yet, check out the Windows Server AppFabric Learning Center on MSDN. The first version is out now and can be downloaded here.
One key functionality of AppFabric that caught my attention was its caching feature also known as Velocity (Project Code Name). To quote MSDN:
For Web applications, AppFabric provides caching capabilities to provide high-speed access, scale, and high availability to application data.
Sounds interesting, especially as I am building a web application which is going to be hosted in a web farm. Instead of using ASP.NET’s built-in caching option, which is tied to a single AppDomain and thus one web server, I can opt to use a cache powered by AppFabric which is shared across web servers.
Let’s see it in action…

Table Of Contents
Installation
Lets first install AppFabric. Download the most appropriate Windows Server AppFabric version for you on the following page:
http://www.microsoft.com/downloads/details.aspx?FamilyID=467E5AA5-C25B-4C80-A6D2-9F8FB0F337D2&displaylang=en
Start and follow the wizard. First it will ask which features you want to install. I’m only interested in the caching features so I unchecked all the rest.
Figure 1 – Feature Selection
Add caption
Next you need to configure the Caching Service.
Figure 2 – Configure Caching Service
Add caption
I created a new local user account for the Caching Service account (default: NT AUTHORITY\NETWORK SERVICE) and chose to store its configuration settings in an XML file which needs to be located in a file share (UNC server share: e.g.:\\CHRISTOPHE-PC\AppFabric).
Remark: You can also opt to store the configuration settings in an SQL Server database, but alas this is only allowed if you are part of a domain and not a workgroup. So I’m stuck with the XML option since I’m using Windows 7 Home Premium.
You can also change the default ports for the Cache node, but I used the default values.
Figure 3 – Configure AppFabric Cache Node.

Be sure to include the Windows firewall exceptions if needed!
Remark: Also check out Scott Hanselman’s article which contains more information about setting up AppFabric.
Top of page
Administration
When administrating AppFabric Caching you’ll have to do most of it using a command-line tool.
Figure 4 – Caching Administration Windows PowerShell

Run it as Administrator and type “Start-CacheCluster” to start the AppFabric Caching Service.
Figure 5 – Starting The Cache Cluster

Afterwards I changed the startup type of the service to automatic via the MMC Services add-in.
Figure 6 – Services

You can also download the AppFabric Caching Administration Tool by Ron Jacobs on CodePlex if you prefer a graphical user interface to perform most of the regular tasks when it comes to administrating the Microsoft Distributed Cache.
Top of page
Using The Cache in ASP.NET MVC
I created a blank solution in Visual Studio 2010 called AppFabric. The solution contains two projects, namely a class library (CGeers.Core) and a MVC 2 Web Application (MvcApplication).
Figure 7 – Solution Explorer

The CGeers.Core class library contains references to two assemblies from AppFabric.
Figure 8 – AppFabric Assemblies

I don’t want to directly use the AppFabric types in my MVC application so I added the following interface to the CGeers.Core library.
Listing 1 – ICacheProvider
public interface ICacheProvider
{
    void Add(string key, object value);
    void Add(string key, object value, TimeSpan timeout);
    object Get(string key);
    object this[string key] { get; set; }
    bool Remove(string key);
}
When I want to add / retrieve an object to / from the cache I use the methods of the static Cache type shown in Listing 2. Internally these methods use an implementation of the ICacheProvider interface and delegate all calls to that instance. The ICacheProvider instance is resolved using the ServiceLocator type provided by Unity 2.0.
Listing 2 – Cache
public static class Cache
{
    private static readonly ICacheProvider CacheProvider;

    static Cache()
    {
        CacheProvider =
            (ICacheProvider) ServiceLocator.Current
                                    .GetInstance(typeof (ICacheProvider));
    }

    public static void Add(string key, object value)
    {
        CacheProvider.Add(key, value);
    }

    public static void Add(string key, object value, TimeSpan timeout)
    {
        CacheProvider.Add(key, value, timeout);
    }

    public static object Get(string key)
    {
        return CacheProvider[key];
    }

    public static bool Remove(string key)
    {
        return CacheProvider.Remove(key);
    }
}
Now we only need to create an ICacheProvider implementation for AppFabric. The following listing shows you how to do this.
Listing 3 – AppFabric CacheProvider Implementation
public class CacheProvider : ICacheProvider
{
    private static DataCacheFactory _factory;
    private static DataCache _cache;

    private static DataCache GetCache()
    {
        // ...
    }

    public void Add(string key, object value)
    {
        var cache = GetCache();
        cache.Add(key, value);
    }

    public void Add(string key, object value, TimeSpan timeout)
    {
        var cache = GetCache();
        cache.Add(key, value, timeout);
    }

    public object Get(string key)
    {
        var cache = GetCache();
        return cache.Get(key);
    }

    public object this[string key]
    {
        get { return this.Get(key); }
        set
        {
            var cache = GetCache();
            cache.Put(key, value);
        }
    }

    public bool Remove(string key)
    {
        var cache = GetCache();
        return cache.Remove(key);
    }
}
All of the methods are pretty straightforward. The Add(…), Remove(…)…etc. methods all use the DataCache class provided by AppFabric. The GetCache() method configures and sets up your cache.
Listing 4 – Configuring and Setting Up the Cache
private static DataCache GetCache()
{
    if (_cache != null) return _cache;

    // Cache host(s)
    var servers = new List(1)
                        {
                            new DataCacheServerEndpoint("localhost", 22233)
                        };

    // Configuration
    var configuration =
        new DataCacheFactoryConfiguration
            {
                Servers = servers,
                LocalCacheProperties =
                    new DataCacheLocalCacheProperties(1000,
                        new TimeSpan(0, 10, 0),
                        DataCacheLocalCacheInvalidationPolicy.TimeoutBased)
            };

    // Disable tracing to avoid informational / verbose messages on the web page
    DataCacheClientLogManager.ChangeLogLevel(TraceLevel.Off);

    _factory = new DataCacheFactory(configuration);
    _cache = _factory.GetCache("default");

    return _cache;
}
The code shown in Listing 4 is taken from the code provided by the Windows Server AppFabric Samples.
Instead of configuring your cache from code you can also move this to your application’s configuration file. Let’s move it to the Web.config file. Make sure your web application projects references the assemblies displayed in Figure 8.
Listing 5 – Web.config
<configSections>
  <section name="dataCacheClient"
            type="Microsoft.ApplicationServer.Caching.DataCacheClientSection,
                  Microsoft.ApplicationServer.Caching.Core, Version=1.0.0.0,
                  Culture=neutral, PublicKeyToken=31bf3856ad364e35"
            allowLocation="true"
            allowDefinition="Everywhere"/>    

  <section name="unity"
            type="Microsoft.Practices.Unity.Configuration.UnityConfigurationSection,
                  Microsoft.Practices.Unity.Configuration" />
configSections>

<dataCacheClient>
  <localCache isEnabled="true" sync="TimeoutBased" objectCount="1000" ttlValue="600" />
  <hosts>
    <host name="localhost" cachePort="22233" />
  hosts>
dataCacheClient>
You need to to include the DataCacheClientSection configuration section so that your application can understand and parse the dataCacheClient node of your configuration file. In this node you setup all hosts that make up your cache cluster, configure local caching…etc. You can now reduce the code of Listing 4 to this:
Listing 6 – Configuring and Setting Up the Cache via Web.config
private static DataCache GetCache()
{
    if (_cache != null) return _cache;

    var configuration = new DataCacheFactoryConfiguration();
    _factory = new DataCacheFactory(configuration);
    _cache = _factory.GetCache("default");

    return _cache;
}
Add a reference to the CGeers.Core library from the MVC application and you are ready to use the AppFabric Caching service.
Listing 7 – Adding an Object to the Cache
var myIdentifier = (Guid?) Cache.Get("MyIdentifier");
if (myIdentifier == null)
{
    myIdentifier = Guid.NewGuid();
    Cache.Add("MyIdentifier", myIdentifier, new TimeSpan(0, 0, 30));
}
ViewData["MyIdentifier"] = myIdentifier;
Don’t forget to configure your Unity container so that the ServiceLocator type (see Listing 2) will find the AppFabric implementation of the ICacheProvider interface. You can do this from your Global.asax Application_Start() event handler.
Listing 8 – UnityContainer
protected void Application_Start()
{
    AreaRegistration.RegisterAllAreas();
    RegisterRoutes(RouteTable.Routes);

    var container = new UnityContainer();
    var section = (UnityConfigurationSection) ConfigurationManager.GetSection("unity");
    section.Configure(container, "defaultContainer");

    var serviceLocator = new UnityServiceLocator(container);
    ServiceLocator.SetLocatorProvider(() => serviceLocator);
}
Remark: The contents of the UnityContainer are configured in the Web.config. Download the source code for this article if you want to check it out.
Top of page
ASP.NET Session State Provider
In ASP.NET you have 4 options when choosing which provider to use for your session state, namely:
  • In-Process (default)
  • ASP.NET State Service
  • SQL Server Mode
  • Custom
AppFabric provides a custom session state provider that allows you to store your session state in the AppFabric cache. You only need to expand the configuration shown in Listing 5 with the following which needs to be placed within the system.web node.
Listing 9 – Session State Provider
<sessionState mode="Custom" customProvider="AppFabricCacheSessionStoreProvider">
  <providers>
    <add
      name="AppFabricCacheSessionStoreProvider"
      type="Microsoft.ApplicationServer.Caching.DataCacheSessionStoreProvider"
      cacheName="default"
      sharedId="MvcApplication"/>
  providers>
sessionState>
Voila, your session state is now maintained by Windows Server AppFabric. Check out the following MSDN article for more information about configuring an ASP.NET Session State Provider for AppFabric:
http://msdn.microsoft.com/en-us/library/ee790859.aspx
Top of page
Download
You can find the source code for this article on the Download page of this blog.
Any comments, questions, tips…etc. are always appreciated.
Top of page

Cara setting plugin WP Super Cache & DB Cache Reloaded

Rata-rata semua blog saya kupakaikan 2 plugin WordPress ini, WP Super Cache dan DB Cache Reloaded, untuk membuat loading blog lebih cepat sekaligus optimasi hostingan. Karena kedua plugin tersebut dapat melakukan kompresi dan meminimalkan permintaan query pada database. Berikut cara setting plugin WP Super Cache dan DB Cache Reloaded setelah kamu meng-instal-nya: (Saya pakai hostingan Bluehost dan masih WP 2.9.3, kini sudah dirilis WordPress 3.0)
Plugin DB Cache Reloaded
1. Aktifkan plugin kemudin masuk di SettingsDB Cache Reloaded
2. Pada halaman configuration, centang option enable untuk mengaktifkan plugin ini. Kamu tidak perlu mengubah settingan apapun selain option enable.
Plugin DB Cache Reloaded
Add caption
3. Save! selesai.
Plugin WP Super Cache
1. Aktifkan plugin kemudin masuk di SettingsWP Super Cache
2. Pada halaman WP Super Cache Status, pilih option ON WP Cache and Super Cache enabled.
3. Centang option Mobile device.
4. Klik button update status.
5. Akan muncul rule apache yang harus kamu masukkan ke dalam file .htaccess. Simpan rule tersebut di atas rule apache wordpress. (Rule dimulai dari # BEGIN WPSuperCache … sampai # END WPSuperCache. Rule untuk dalam folder cache tidak perlu dimasukkan, jika install pluginnya berjalan lancar rule folder cache itu akan otomatis terbentuk.)
Rule WP Super Cache
6. Pada settingan Super Cache Compression, pilih opsi Enabled.
7. klik button update compression. Selesai.
Jika cara setting plugin WP Super Cache dan DB Cache Reloaded ini berhasil, kamu bisa lihat perubahan waktu load situs kamu dengan menekan CTRL+U (Page Source). Waktu load akan tertulis di bagian paling bawah. Untuk melihat berapa query yang diminta pada database dalam satu halaman blog, kamu bisa pasang kode di footer.php theme wp kamu. Semakin kecil permintaan query berarti semakin bagus. Selamat mencoba sob! :)
Please Note:
Sorry sob, saya nggak bisa bahas plugin WordPress lainnya yang sejenis, soalnya setelah saya membandingkan dengan yang lainnya, gabungan kedua plugin ini lebih memberikan waktu dan permintaan query yang lebih sedikit. Silahkan bereksperimen sendiri :)

Winstep Nexus, Sistem Docking untuk Windows



Winstep Nexus, Sistem Docking untuk Windows
Add caption
Para pengguna komputer yang menggunakan banyak aplikasi dalam bekerja seringkali menghadapi kesulitan, karena untuk menjalankan suatu aplikasi dan berganti dari satu aplikasi ke aplikasi lain cukup merepotkan. Untuk memudahkan segalanya, mereka dapat menggunakan antarmuka tambahan berupa Dock. Dock adalah antarmuka tambahan yang menyediakan cara yang mudah untuk menjalankan serta berganti antara beberapa aplikasi dengan mudah.

Winstep Nexus adalah sebuah sistem docking yang sangat baik, namun untuk saat ini hanya tersedia untuk sistem operasi Windows saja. Nexus adalah Dock yang membuat bekerja dengan beberapa aplikasi menjadi sangat mudah, dan bahkan terasa lebih menyenangkan. Kita dapat mengakses aplikasi, folder, serta dokumen yang sering kita gunakan hanya dengan sekali klik saja. Nexus tersedia dalam dua versi, yaitu Winstep Nexus (gratis) dan Nexus Ultimate.
Berikut adalah beberapa fitur dari Winstep Nexus:
  • Menampilkan daftar aplikasi yang sedang digunakan didalam Dock yang dapat diatur dengan grouping, filtering, serta icon customization.
  • Menampilkan system tray pada Dock sebagai icon individual atau group.
  • Efek samar dan efek warna yang menarik pada latar belakang Dock.
  • Memonitor koneksi yang aktif dan penggunaan bandwidth dengan modul Net Meter
  • Beberapa efek mouse over, seperti zoom, swing, bounce, dan sebagainya.
Masih banyak sekali fitur dari Winstep Nexus yang belum disebutkan diatas. Untuk mengetahui lebih jauh, akan lebih baik jika anda langsung mencobanya. Anda dapat mengunduh Winstep Nexus di website resmi nya http://www.winstep.net/